JEMBER BERDZIKIR DAN BERSHOLAWAT

Bermentallah Aku Hanyalah….. Jangan Bermental Aku Adalah…..

Pandangan Sahabat Nabi Muhammad S.A.W Tentang Ilmu

Posted by arif pada 7 Februari 2012

Perkataan Sahabat Tentang Pentingnya Ilmu

Lanjutan Bab KELEBIHAN DARI ILMU  dari kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al Ghozali

Ali bin Abi Thalib ra. berkata kepada Kumail :

“Hai Kumail!!!  Ilmu itu lebih baik dari pada harta, Ilmu menjaga kamu dan kamu menjaga harta. Ilmu itu penghukum dan harta itu terhukum, Harta berkurang jika dibelanjakan dan ilmu bertambah jika dibelanjakan (diamalkan)

Ali Ra pula berkata :

Orang berilmu itu lebih utama dari pada orang yang berpuasa, bershalat dan berjihad. Apabila meninggal orang yang berilmu, maka terdapat suatu kekosongan dalam islam, yang tidak dapat ditutup dengan seorang penggantinya (orang berilmu juga).

Berkata juga Ali Ra dengan sajak:

Tidaklah kebanggaan selain bagi ahli ilmu…

Mereka memberi petunjuk kepada orang yang meminta petunjuk…

Nilai manusia adalah dengan kebaikan yang dikerjakan…

Dan orang orang yang bodoh adalah musuh dari ahli ilmu..

Menanglah engkau dengan Ilmu dan hiduplah dengan lama

Orang lain mati sedangkan ahli ilmu tidak

Berkata Abdul Aswad:

Tidak ada yang lebih mulia dari ilmu. Raja raja itu menghukum manusia dan alim ulama itu menghukum raja raja.

Berkata Ibnu Abbas  Ra

Disuruh memilih Sulaiman Bin Daud As.  antara Ilmu, Harta dan Kerajaan. Maka dipilihlah ilmu lalu dari ilmu tersebut dianugrahkanlah kepadanya Harta, Kerajaan

Ditanya Ibnu Mubarak

Siapakah manusia itu?

Dijawab  :  Orang orang yang berilmu…

Ditanya pula :  Siapakah raja  itu???

Dijawab :  Orang yang Zuhud

Ditanya :  Siapakah orang yang hina itu?

Dijawab :  Mereka yang memakan (memperoleh) dunia dengan agama. maksudnya ” agama dibuat sebagai ajang bisnis *redaksi

Beliau berkata tidak dimasukkan orang yang tidak berilmu terhadap golongan manusia karena yang membedakan manusia dan hewan adalah ILMU,,, maka manusia itu ialah manusia, manusia akan mulia jika berilmu…

Bertanya Fathul-Mausuli  Ra

Bukankah orang sakit itu apabila tak mau makan dan minum, lalu ia mati? “Benar” menjawab orang disekelilingnya

lalu menyambung Fathul – Mausuli Ra  “Begitu pula hati, apabila tak mau kepada hikmah dan ilmu dalam tiga hari, maka matilah hati itu.

Benarlah perkataan itu, karena sesungguhnya makanan hati itu ialah ilmu dan hikmah. Dengan dua itulah maka hiduplah hati, sebagaimana tubuh itu hidup dengan makanan

Orang yang tak berilmu, hatinya menjadi sakit dan kematian hatinya itu suatu keharusan. Tetapi, dia tidak menyadari demikian, karena kecintaan dan kesibukannya dengan dunia, menghilangkan perasaan itu, kadang-kadang menghilangkan kepedihan luka seketika, meskipun luka itu masih ada.

Apabila mati itu telah menghilangkan kesibukan duniawi, lalu ia merasa dengan kebinasaan dan rugi besar. Kemudian, dunia itu tidak bermanfa’at baginya.

Yang demikian itu, seperti : dirasakan oleh orang yang telah aman dari ketakutan dan telah sembuh mabuk, dengan luka-luka yang diperolehnya dahulu sewaktu sedang mabuk dan takut.

Kita berlindung kepada Allah dari hari pembukaan apa yang tertutup. Sesungguhnya manusia itu tertidur, Apabila mati, maka dia terbangun.

Berkata Al-Hassan ra :

“Ditimbang tinta para ulama dengan darah para syuhada’. Maka beratlah timbangan tinta para ulama itu, dari darah para syuhada”

Berkata Ibnu Mas’ud ra :

“Haruslah engkau berilmu sebelum ilmu itu diangkat. Diangkat ilmu adalah dengan kematian perawi-perawinya. Demi Tuhan yang jiwaku di dalam kekuasaan-Nya!,  Sesungguhnya orang-orang yang syahid dalam perang sabil, lebih suka dibangkitkan oleh Allah nanti sebagai ulama. Karena melihat kemuliaan ulama itu. Sesungguhnya tak ada seorangpun yang dilahirkan berilmu. Karena ilmu itu adalah dengan belajar

Berkata Ibnu Abbas ra :

“Bertukar-pikiran tentang ilmu sebahagian dari malam, lebih aku sukai daripada berbuat ibadah di malam itu” Begitu juga menurut Abu Hurairah ra. dan Ahmad bin Hanbal ra.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(Rabbanaa aatinaa fiddun-ya has ana tan wa filaakhirati hasanatan)
QS. Al-Baqarah 201

Artinya :
“Wahai Tuhan kami! Berilah kamikebaikan didunia ini dan kebaikan pula di hari akhirat”

Bahwa kebaikan di dunia itu ialah ilmu dan ibadah, sedang kebaikan di akhirat itu, ialah sorga.

Ditanyakan kepada setengah hukama’ (para ahli hikmah) : “Barang apakah yang dapat disimpan lama?”
Lalu ia menjawab : “Yaitu barang-barang, apabila kapalmu karam, maka dia berenang bersama kamu, yakni : ilmu* Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan karam kapal ialah binasa badan, dengan mati….

Berkata setengah hukama’ : “Barangsiapa membuat ilmu sebagai kekang di mulut kuda, niscaya dia diambil manusia menjadi imam. Dan barangsiapa dikenal dengan hikmahnya, niscaya dia diperhatikan oleh semua mata dengan mulia”

Berkata Imam Asy-Syafi’i ra. :

“Diantara kemuliaan ilmu, ialah bahwa tiap-tiap orang dikatakan berilmu, meskipun dalam soal yang remeh, maka ia gembira. Sebaliknya, apabila dikatakan tidak, maka ia merasa sedih”

Berkata Umar ra. :

“Hai manusia! Haruslah engkau berilmu! Bahwasanya Allah swt. mempunyai selendang yang dikasihiNya. Barangsiapa mencari sebuah pintu dari ilmu, maka ia diselendangi Allah dengan selendangNya. Jika ia berbuat dosa, maka dimintanya kerelaan Allah tiga kali, supaya selendang itu tidak di buka daripadanya dan jika pun berkepanjangan dosanya sampai ia mati”

Berkata Al-Ahnaf ra. :

“Hampirlah orang berilmu itu dianggap sebagai Tuhan. Dan tiap-tiap kemuliaan yang tidak dikuatkan dengan ilmu, maka kehinaanlah kesudahannya”

Berkata Salim bin Abil-Ja’ad :

“Aku dibeli oleh tuanku dengan harga 300 dirham lalu dimerdekakannya aku. Lalu aku bertanya :
“Pekerjaan apakah yang akan aku kerjakan?”. Maka bekerjalah aku dalam lapangan ilmu. Tak sampai setahun kemudian, datanglah berkunjung kepadaku amir kota Madinah. Maka tidak aku izinkan, ia masuk”.

Berkata Zubair bin Abi Bakar :

“Ayahku di Irak menulis surat kepadaku. Isinya diantara lain, yaitu : “Haruslah engkau berilmu! Karena jika engkau memerlukan kepadanya, maka ia menjadi
harta bagimu. Dan jika engkau tidak memerlukan kepadanya, maka ilmu itu menambahkan keelokanmu”

Diceriterakan juga yang demikian dalam nasehat Luqman kepada anaknya. Berkata Luqman : “Hai anakku! Duduklah bersama ulama/ Rapatlah mereka dengan kedua lututmu! Sesungguhnya Allah swt. menghidupkan hati dengan nur-hikmah (sinar ilmu) seperti menghidupkan bumi dengan hujan dari langit”.

Berkata setengah hukama’ :

“Apabila meninggal seorang ahli ilmu, maka ia ditangisi oleh ikan di dalam air dan burung di udara. Wajahnya hilang tetapi sebutannya tidak dilupakan”.

Berkata Az-Zuhri :

“Ilmu itu jantan dan tidak mencintainya selain oleh laki-laki yang jantan”

Waallahu a’lam bi-showab

YA ALLAH AKU MOHON KEPADAMU AKAN KHUSNUL KHOTIMAH…..  AMINALLAHUMMA… AMIN…

Na’uudzu billaahi min ‘ilmin laa yanfa

“Aku berlindung pada Allah, dari ilmu yang tidak bermanfa’at”

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus

Terjemahan dari kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al Ghozali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: