JEMBER BERDZIKIR DAN BERSHOLAWAT

Bermentallah Aku Hanyalah….. Jangan Bermental Aku Adalah…..

Biografi KH. Hamid Pasuruan

Posted by arif pada 15 Mei 2009

KYAI HAMID PASURUANKiai Hamid lahir pada tahun 1333 H (bertepatan dengan 1914 atau 1915 M) di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya di dukuh Sumurkepel, desa Sumbergirang. Sebuah pedukuhan yang terletak di tengah kota kecamatan Lasem. Begitu lahir, bayi itu diberi nama Abdul Mu’thi. Itulah nama kecil beliau hingga remaja, sebelum berganti menjadi AbdulHamid.

Abdul Mu’thi kecil biasa dipanggil “Dul” saja. Tapi, seringkali panggilan ini diplesetkan menjadi “Bedudul” karena kenakalannya.

Mu’thi memang tumbuh sebagai anak yang lincah, extrovert, dan nakal. “Nakalnya luar biasa,” tutur KH. Hasan Abdillah Glenmore, adik sepupu beliau. Tapi nakalnya Mu’thi tidak seperti anak-anak sekarang: yang sampai mabuk-mabukan atau melakukan perbuatan asusila. Nakalnya Mu’thi adalah kenakalan bocah yang masih dalam batas wajar, tapi untuk ukuran anak seorang kiai dipandang “luar biasa”. Sebab, sehari-hari dia jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang. Beliau bisa disebut bolamania alias gila sepak bola, dan ayahandanya tak bisa membendung hobi ini. Karena banyak bermain, ngajinya otomatis kurang teratur walaupun bukan ditinggalkan sama sekali. Dia mengaji kepada KH. Ma’shum (ayahanda KH. Ali Ma’shum Jogjakarta) dan KH. Baidhawi, dua “pentolan” ulama Lasem.

Kiai Hamid Pasuruan:

Kini Sulit Dicari Padanannya

Kiai Hamid lahir pada tahun 1333 H (bertepatan dengan 1914 atau 1915 M) di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya di dukuh Sumurkepel, desa Sumbergirang. Sebuah pedukuhan yang terletak di tengah kota kecamatan Lasem. Begitu lahir, bayi itu diberi nama Abdul Mu’thi. Itulah nama kecil beliau hingga remaja, sebelum berganti menjadi Abdul Hamid.

Abdul Mu’thi kecil biasa dipanggil “Dul” saja. Tapi, seringkali panggilan ini diplesetkan menjadi “Bedudul” karena kenakalannya.

Mu’thi memang tumbuh sebagai anak yang lincah, extrovert, dan nakal. “Nakalnya luar biasa,” tutur KH. Hasan Abdillah Glenmore, adik sepupu beliau. Tapi nakalnya Mu’thi tidak seperti anak-anak sekarang: yang sampai mabuk-mabukan atau melakukan perbuatan asusila. Nakalnya Mu’thi adalah kenakalan bocah yang masih dalam batas wajar, tapi untuk ukuran anak seorang kiai dipandang “luar biasa”. Sebab, sehari-hari dia jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang. Beliau bisa disebut bolamania alias gila sepak bola, dan ayahandanya tak bisa membendung hobi ini. Karena banyak bermain, ngajinya otomatis kurang teratur walaupun bukan ditinggalkan sama sekali. Dia mengaji kepada KH. Ma’shum (ayahanda KH. Ali Ma’shum Jogjakarta) dan KH. Baidhawi, dua “pentolan” ulama Lasem.

Ketika mulai beranjak remaja (ABG), dia mulai gemar belajar kanoragan (semacam ilmu kesaktian). Belajarnya cukup intensif sehingga mencapai taraf ilmu yang cukup tinggi. “Sampai bisa menangkap babi jadi-jadian,” tutur KH. Zaki Ubaid Pasuruan.

Meski begitu, sejak kecil ia sudah menunjukkan tanda-tanda bakal menjadi wali atau, setidaknya, orang besar. Ketika diajak kakeknya, KH. Muhammad Shiddiq (Jember), pergi haji, Mu’thi bertemu dengan Rasulullah s.a.w. Pada saat haji itulah namanya diganti menjadi Abdul Hamid.

Dipondokkan

Pada usia sekitar 12-13 tahun, Hamid dikirim ayahandanya, K.H. Abdullah Umar, ke Pondok Kasingan, Rembang. Maksud ayahandanya, untuk meredam kenakalannya. Dia tidak lama di pondok ini. Satu atau satu setengah tahun kemudian dia pindah ke Pondok Tremas, Pacitan. Pondok pimpinan KH. Dimyathi ini cukup besar dan berwibawa. Dari pondok ini terlahir banyak kiai besar. Di antaranya adalah KH. Ali Ma’shum Jogjakarta (mantan rais am PB NU), KH. Masduqi Lasem, KH. Abdul Ghofur Pasuruan, KH. Harun Banyuwangi, dan masih banyak lagi.

Walaupun kegemarannya bermain sepak bola masih berlanjut, di pesantren ini beliau mulai mendapat gemblengan ilmu yang sebenarnya. Uang kiriman orangtua yang hanya cukup untuk dipakai makan nasi thiwul tidak membuatnya patah arang. Dia tetap betah tinggal di sana sampai 12 tahun, hingga mencapai taraf keilmuan yang tinggi di berbagai bidang.

Tidak Suka Dipuja

Setelah 12 tahun belajar agama di Pondok Tremas, tokoh kita itu dipinang oleh pamandanya, KH. Achmad Qusyairi, untuk dikawinkan dengan putrinya, Nafisah.
Konon, Kiai Achmad pernah menerima pesan dari ayahandanya, KH. Muhammad Shiddiq, supaya mengambil Hamid sebagai menantu mengingat keistimewaan-keistimewaan yang tampak pada pemuda tersebut. Antara lain, saat pergi haji dulu, dia bisa berjumpa dengan Rasulullah s.a.w. Sayang, sang kakek tak sempat melihat pernikahan itu karena lebih dulu dipanggil Sang Mahakuasa.

Seperti disebut dalam surat undangan, akad nikah akan dilangsungkan pada 12 September 1940 M, bertepatan dengan 9 Sya’ban 1359 H, selepas zhuhur pukul 1 di Masjid Jami’ (sekarang Masjid Agung Al-Anwar) Pasuruan. Namun, rencana tinggal rencana. Pada waktu yang ditentukan, para undangan sudah berkumpul di Masjid Jami’, namun rombongan penganten pria tak kunjung muncul hingga jam menunjuk pukul 2. Terpaksa acara melompat ke sesi berikutnya, yaitu walimah di rumah Kiai Achmad Qusyairi di Kebonsari, di kompleks Pesantren Salafiyah.

Di sana kembali orang-orang dibuat menunggu. Ternyata, rombongan penganten pria baru datang sore hari, setelah acara walimah rampung dan para undangan pulang semua. “Anu, penganten kuajak mampir ke makam (para wali),” kata Kiai Ma’shum, yang dipercaya menjadi kepala rombongan. Apa boleh buat, akad nikah pun dilangsungkan tanpa kehadiran undangan, dan hanya disaksikan para handai tolan.

Sejak itu, Haji Abdul Hamid tinggal di rumah mertuanya. Lima atau enam tahun kemudian, Kiai Achmad pindah ke Jember, lalu pindah ke Glenmore, Banyuwangi. Tinggallah kini Kiai Hamid bersama istrinya harus berjuang secara mandiri mengarungi samudera kehidupan dalam biduk rumah tangga yang baru mereka bina. Untuk menghidupi diri dan keluarga, Kiai Hamid berusaha apa saja. Dari jual beli sepeda, berdagang kelapa dan kedelai sampai menyewa sawah dan berdagang spare part dokar.

Prihatin

Hari-hari mereka adalah hari-hari penuh keprihatinan. Makan nasi dengan krupuk atau tempe panggang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Terkadang, sarung yang sudah menerawang (karena usang) masih dipakai (dengan dilapisi kain serban supaya warna kulitnya tidak kelihatan). Tapi, Kiai Hamid tak kenal putus asa, terus berusaha dan berusaha.

Kala itu beliau belum terlibat dalam kegiatan Pesantren Salafiyah, meski tinggal di kompleks pesantren. Di tengah hidup prihatin itu, beliau mulai punya santri — dua orang — yang ditempatkan di sebuah gubuk di halaman rumah. Beliau juga mulai menggelar pengajian di berbagai desa di kabupaten Pasuruan: Rejoso, Ranggeh dan lain-lain.

Sekitar 1951, sepeninggal KH. Abdullah ibn Yasin yang jadi nazhir (pengasuh) Pondok Salafiyah, beliau dipercaya sebagai guru besar pondok, sementara KH. Aqib Yasin, adik Kiai Abdullah, menjadi nazhir. Meski demikian, secara de facto, beliaulah yang memangku pondok itu, mengurusi segala tetek bengek sehari-hari, day to day karena Kiai Aqib yang muda itu, masih belajar di Lasem.

Fenomenal

Kiai Hamid benar-benar berangkat dari titik nol dalam membina Pondok Salafiyah. Sebab, saat itu tidak ada santri. Para santri sebelumnya tidak tahan dengan disiplin tinggi yang diterapkan Kiai Abdullah.

Walaupun tak ada promosi, satu demi satu santri mulai berdatangan. Prosesnya sungguh natural, tanpa rekayasa. Perkembangannya memang tidak bisa dibilang melesat cepat, tapi gerak itu pasti. Terus bergerak dan bergerak hingga kamar-kamar yang ada tidak mencukupi untuk para santri dan harus dibangun yang baru; hingga jumlah santrinya mencapai ratusan orang, memenuhi ruang-ruang pondok yang lahannya tak bisa diperluas lagi karena terhimpit rumah-rumah penduduk; hingga pada akhirnya, terdorong oleh perkembangan zaman, fasilitas baru pun perlu disediakan, yaitu madrasah klasikal.

Perkembangan fenomenal terjadi pada pribadi beliau. Dari semula hanya dipanggil “haji” lalu diakui sebagai “kiai”, pengakuan masyarakat semakin membesar dan membesar. Tamunya semakin lama semakin banyak. Terutama setelah wafatnya Habib Ja’far As-Segaf (wali terkemuka Pasuruan waktu itu yang jadi guru spiritualnya) sekitar 1954, sinarnya semakin membesar dan membesar. Kiai Hamid sendiri mulai diakui sebagai wali beberapa tahun kemudian, sekitar awal 1960-an. Pengakuan akan kewalian itu kian meluas dan meluas, hingga akhirnya mencapai taraf — meminjam istilah Gus Mus — “muttafaq ‘alaih” (disepakati semua orang, termasuk di kalangan mereka yang selama ini tak mudah mengakui kewalian seseorang).

Lurus

Ketika Kiai Hamid mulai berkiprah di Pasuruan, tak sedikit orang yang merasa tersaingi. Terutama ketika beliau menggelar pengajian di kampung-kampung. Maklumlah, beliau seorang pendatang. Ada kiai setempat yang menuduh beliau mencari pengaruh, dan menggerogoti santri mereka. Padahal, Kiai Hamid mengajar di sana atas permintaan penduduk setempat.

Ibarat kata pepatah Jawa “Becik ketitik, ala ketara”, lambat laun beliau dapat menghapus kesan itu. Bukan dengan rekayasa atau “politik pencitraan” yang canggih, melainkan dengan perbuatan nyata. Dengan tetap berjalan lurus, dan terutama dengan sikap tawadhu’, kehadiran beliau akhirnya dapat diterima sepenuhnya. Bahkan mereka menaruh hormat pada beliau justru karena sikap tawadhu’ itu.

Beliau memang rendah hati (tawadhu’). Kalau menghadiri suatu acara, beliau memilih duduk di tempat “orang-orang biasa”, yaitu di belakang, bukan di depan. “Kiai Hamid selalu ndepis (menyembunyikan diri) di pojok,” kata Kiai Hasan Abdillah.

Hormat

Beliau bersikap hormat pada siapapun. Dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang jelata sampai yang berpangkat, semua dilayaninya, semua dihargainya. Misalnya, bila sedang menghadapi banyak tamu, beliau memberikan perhatian pada mereka semua. Mereka ditanyai satu per satu sehingga tak ada yang merasa disepelekan. “Yang paling berkesan dari Kiai Hamid adalah akhlaknya: penghargaannya pada orang, pada ilmu, pada orang alim, pada ulama. Juga tindak tanduknya,” kata Mantan Menteri Agama, Prof. Dr. Mukti Ali, yang pernah menjadi junior sekaligus anak didiknya di Pesantren Tremas.

Beliau sangat menghormat pada ulama dan habaib. Di depan mereka, sikap beliau layaknya sikap seorang santri kepada kiainya. Bila mereka bertandang ke rumahnya, beliau sibuk melayani. Misalnya, ketika Sayid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki, seorang ulama kondang Mekah (yang baru saja wafat), bertamu, beliau sendiri yang mengambilkan suguhan, lalu mengajaknya bercakap sambil memijatinya. Padahal tamunya itu lebih muda usia.

Sikap tawadhu’ itulah, antara lain, rahasia “keberhasilan” beliau. Karena sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai tokoh. Para kiai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat sikap tawadhu’ beliau yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Derajat beliau pun meningkat, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah s.a.w., “Barangsiapa bersikap tawadhu’, Allah akan mengangkatnya.”

Sabar

Beliau sangat penyabar, sementara pembawaan beliau halus sekali. Sebenarnya, di balik kehalusan itu tersimpan sikap keras dan temperamental. Hanya berkat riyadhah (latihan) yang panjang, beliau berhasil meredam sifat cepat marah itu dan menggantinya dengan sifat sabar luar biasa. Riyadhah telah memberi beliau kekuatan nan hebat untuk mengendalikan amarah.

Beliau, misalnya, dapat menahan amarah ketika disorongkan oleh seorang santri hingga hampir terjatuh. Padahal, santri itu telah melanggar aturan pondok, yaitu tidak tidur hingga lewat pukul 9 malam. Waktu itu hari sudah larut malam. Beliau disorongkan karena dikira seorang santri. “Sudah malam, ayo tidur, jangan sampai ketinggalan salat subuh berjamaah,” kata beliau dengan suara halus sekali.

Beliau juga tidak marah mendapati buah-buahan di kebun beliau habis dicuri para santri dan ayam-ayam ternak beliau ludes dipotong mereka. “Pokoknya, barang-barang di sini kalau ada yang mengambil (makan), berarti bukan rezeki kita,” kata beliau.
Pada saat-saat awal beliau memimpin Pondok Salafiyah, seorang tetangga sering melempari rumah beliau. Ketika tetangga itu punya hajat, beliau menyuruh seorang santri membawa beras dan daging ke rumah orang tersebut. Tentu saja orang itu kaget, dan sejak itu kapok, tidak mau mengulangi perbuatan usilnya tadi.

Beliau juga tidak marah ketika seorang yang hasud mencuri daun pintu yang sudah dipasang pada bangunan baru di pondok.

Penyakit Hati

Melalui riyadhah dan mujahadah (memerangi hawa nafsu) yang panjang, beliau telah berhasil membersihkan hati beliau dari berbagai penyakit. Tidak hanya penyakit takabur dan amarah, tapi juga penyakit lainnya. Beliau sudah berhasil menghalau rasa iri dan dengki. Beliau sering mengarahkan orang untuk bertanya kepada kiai lain mengenai masalah tertentu. “Sampeyan tanya saja kepada Kiai Ghofur, beliau ahlinya,” kata beliau kepada seorang yang bertanya masalah fiqih. Beliau pernah marah kepada rombongan tamu yang telah jauh-jauh datang ke tempat beliau, dan mengabaikan kiai di kampung mereka. Beliau tak segan “memberikan” sejumlah santrinya kepada KH. Abdur Rahman, yang tinggal di sebelah rumahnya, dan kepada Ustaz Sholeh, keponakannya yang mengasuh Pondok Pesantren Hidayatus Salafiyah.

Bergunjing

Menghilangkan rasa takabur memang sangat sulit. Terutama bagi orang yang memiliki kelebihan ilmu dan pengaruh. Ada yang tak kalah sulitnya untuk dihapus, yaitu kebiasaan menggunjing orang lain. Bahkan para kiai yang memiliki derajat tinggi pun umumnya tak lepas dari penyakit ini. Apakah menggunjing kiai saingannya atau orang lain. Kiai Hamid, menurut pengakuan banyak pihak, tak pernah melakukan hal ini. Kalau ada orang yang hendak bergunjing di depan beliau, beliau menyingkir. Sampai KH. Ali Ma’shum berkata, “Wali itu ya Kiai Hamid itulah. Beliau tidak mau menggunjing (ngrasani) orang lain.”

Manusia Biasa

Kiai Hamid, seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga masyarakatnya. Tidak hanya di Pasuruan tapi juga di tempat-tempat lain. Beliau adalah sokoguru moralitas masyarakatnya. Beliau adalah cermin (untuk melihat borok-borok diri), beliau adalah teladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuja, di mana-mana dirubung orang, ke mana-mana dikejar orang (walaupun beliau sendiri tidak suka, bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan beliau).

Bagaimanapun beliau manusia biasa (Rasulullah pun manusia biasa), yang harus merasakan kematian. Sabtu 9 Rabiul Awal 1403 H, bertepatan dengan 25 Desember 1982 M, menjadi awal berkabung panjang bagi msyarakat muslim Pasuruan, dan muslim di tempat lain. Hari itu, saat ayam belum berkokok, hujan tangis memecah kesunyian di rumah dalam kompleks Pesantren Salafiyah. Setelah jatuh anfal beberapa hari sebelumnya dan sempat dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya karena penyakit jantung yang akut, beliau menghembuskan nafas terakhir. Inna lillahi wa inna lillahi raji’un.

Umat pun menangis. Pasuruan seakan terhenti, bisu, oleh duka yang dalam. Puluhan, bahkan ratusan ribu orang berduyun-duyun membanjiri Pasuruan. Memenuhi relung-relung Masjid Agung Al-Anwar dan alun-alun kota, memadati gang-gang dan ruas-ruas jalan yang membentang di depannya. Mereka, dalam gerak serentak, di bawah komando seorang imam, KH. Ali Ma’shum Jogjakarta, mengangkat tangan “Allahu Akbar” empat kali dalam salat janazah yang kolosal. Allahumma ighfir lahu warhamhu, ya Allah ampunilah dosanya dan rahmatilah dia.
Hamid Ahmad

Kiai Hamid lahir pada tahun 1333 H (bertepatan dengan 1914 atau 1915 M) di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya di dukuh Sumurkepel, desa Sumbergirang. Sebuah pedukuhan yang terletak di tengah kota kecamatan Lasem. Begitu lahir, bayi itu diberi nama Abdul Mu’thi. Itulah nama kecil beliau hingga remaja, sebelum berganti menjadi AbdulHamid.

Abdul Mu’thi kecil biasa dipanggil “Dul” saja. Tapi, seringkali panggilan ini diplesetkan menjadi “Bedudul” karena kenakalannya.

Mu’thi memang tumbuh sebagai anak yang lincah, extrovert, dan nakal. “Nakalnya luar biasa,” tutur KH. Hasan Abdillah Glenmore, adik sepupu beliau. Tapi nakalnya Mu’thi tidak seperti anak-anak sekarang: yang sampai mabuk-mabukan atau melakukan perbuatan asusila. Nakalnya Mu’thi adalah kenakalan bocah yang masih dalam batas wajar, tapi untuk ukuran anak seorang kiai dipandang “luar biasa”. Sebab, sehari-hari dia jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang. Beliau bisa disebut bolamania alias gila sepak bola, dan ayahandanya tak bisa membendung hobi ini. Karena banyak bermain, ngajinya otomatis kurang teratur walaupun bukan ditinggalkan sama sekali. Dia mengaji kepada KH. Ma’shum (ayahanda KH. Ali Ma’shum Jogjakarta) dan KH. Baidhawi, dua “pentolan” ulama Lasem.

Kiai Hamid Pasuruan:

Kini Sulit Dicari Padanannya

Kiai Hamid lahir pada tahun 1333 H (bertepatan dengan 1914 atau 1915 M) di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya di dukuh Sumurkepel, desa Sumbergirang. Sebuah pedukuhan yang terletak di tengah kota kecamatan Lasem. Begitu lahir, bayi itu diberi nama Abdul Mu’thi. Itulah nama kecil beliau hingga remaja, sebelum berganti menjadi Abdul Hamid.

Abdul Mu’thi kecil biasa dipanggil “Dul” saja. Tapi, seringkali panggilan ini diplesetkan menjadi “Bedudul” karena kenakalannya.

Mu’thi memang tumbuh sebagai anak yang lincah, extrovert, dan nakal. “Nakalnya luar biasa,” tutur KH. Hasan Abdillah Glenmore, adik sepupu beliau. Tapi nakalnya Mu’thi tidak seperti anak-anak sekarang: yang sampai mabuk-mabukan atau melakukan perbuatan asusila. Nakalnya Mu’thi adalah kenakalan bocah yang masih dalam batas wajar, tapi untuk ukuran anak seorang kiai dipandang “luar biasa”. Sebab, sehari-hari dia jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang. Beliau bisa disebut bolamania alias gila sepak bola, dan ayahandanya tak bisa membendung hobi ini. Karena banyak bermain, ngajinya otomatis kurang teratur walaupun bukan ditinggalkan sama sekali. Dia mengaji kepada KH. Ma’shum (ayahanda KH. Ali Ma’shum Jogjakarta) dan KH. Baidhawi, dua “pentolan” ulama Lasem.

Ketika mulai beranjak remaja (ABG), dia mulai gemar belajar kanoragan (semacam ilmu kesaktian). Belajarnya cukup intensif sehingga mencapai taraf ilmu yang cukup tinggi. “Sampai bisa menangkap babi jadi-jadian,” tutur KH. Zaki Ubaid Pasuruan.

Meski begitu, sejak kecil ia sudah menunjukkan tanda-tanda bakal menjadi wali atau, setidaknya, orang besar. Ketika diajak kakeknya, KH. Muhammad Shiddiq (Jember), pergi haji, Mu’thi bertemu dengan Rasulullah s.a.w. Pada saat haji itulah namanya diganti menjadi Abdul Hamid.

Dipondokkan

Pada usia sekitar 12-13 tahun, Hamid dikirim ayahandanya, K.H. Abdullah Umar, ke Pondok Kasingan, Rembang. Maksud ayahandanya, untuk meredam kenakalannya. Dia tidak lama di pondok ini. Satu atau satu setengah tahun kemudian dia pindah ke Pondok Tremas, Pacitan. Pondok pimpinan KH. Dimyathi ini cukup besar dan berwibawa. Dari pondok ini terlahir banyak kiai besar. Di antaranya adalah KH. Ali Ma’shum Jogjakarta (mantan rais am PB NU), KH. Masduqi Lasem, KH. Abdul Ghofur Pasuruan, KH. Harun Banyuwangi, dan masih banyak lagi.

Walaupun kegemarannya bermain sepak bola masih berlanjut, di pesantren ini beliau mulai mendapat gemblengan ilmu yang sebenarnya. Uang kiriman orangtua yang hanya cukup untuk dipakai makan nasi thiwul tidak membuatnya patah arang. Dia tetap betah tinggal di sana sampai 12 tahun, hingga mencapai taraf keilmuan yang tinggi di berbagai bidang.

Tidak Suka Dipuja

Setelah 12 tahun belajar agama di Pondok Tremas, tokoh kita itu dipinang oleh pamandanya, KH. Achmad Qusyairi, untuk dikawinkan dengan putrinya, Nafisah.
Konon, Kiai Achmad pernah menerima pesan dari ayahandanya, KH. Muhammad Shiddiq, supaya mengambil Hamid sebagai menantu mengingat keistimewaan-keistimewaan yang tampak pada pemuda tersebut. Antara lain, saat pergi haji dulu, dia bisa berjumpa dengan Rasulullah s.a.w. Sayang, sang kakek tak sempat melihat pernikahan itu karena lebih dulu dipanggil Sang Mahakuasa.

Seperti disebut dalam surat undangan, akad nikah akan dilangsungkan pada 12 September 1940 M, bertepatan dengan 9 Sya’ban 1359 H, selepas zhuhur pukul 1 di Masjid Jami’ (sekarang Masjid Agung Al-Anwar) Pasuruan. Namun, rencana tinggal rencana. Pada waktu yang ditentukan, para undangan sudah berkumpul di Masjid Jami’, namun rombongan penganten pria tak kunjung muncul hingga jam menunjuk pukul 2. Terpaksa acara melompat ke sesi berikutnya, yaitu walimah di rumah Kiai Achmad Qusyairi di Kebonsari, di kompleks Pesantren Salafiyah.

Di sana kembali orang-orang dibuat menunggu. Ternyata, rombongan penganten pria baru datang sore hari, setelah acara walimah rampung dan para undangan pulang semua. “Anu, penganten kuajak mampir ke makam (para wali),” kata Kiai Ma’shum, yang dipercaya menjadi kepala rombongan. Apa boleh buat, akad nikah pun dilangsungkan tanpa kehadiran undangan, dan hanya disaksikan para handai tolan.

Sejak itu, Haji Abdul Hamid tinggal di rumah mertuanya. Lima atau enam tahun kemudian, Kiai Achmad pindah ke Jember, lalu pindah ke Glenmore, Banyuwangi. Tinggallah kini Kiai Hamid bersama istrinya harus berjuang secara mandiri mengarungi samudera kehidupan dalam biduk rumah tangga yang baru mereka bina. Untuk menghidupi diri dan keluarga, Kiai Hamid berusaha apa saja. Dari jual beli sepeda, berdagang kelapa dan kedelai sampai menyewa sawah dan berdagang spare part dokar.

Prihatin

Hari-hari mereka adalah hari-hari penuh keprihatinan. Makan nasi dengan krupuk atau tempe panggang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Terkadang, sarung yang sudah menerawang (karena usang) masih dipakai (dengan dilapisi kain serban supaya warna kulitnya tidak kelihatan). Tapi, Kiai Hamid tak kenal putus asa, terus berusaha dan berusaha.

Kala itu beliau belum terlibat dalam kegiatan Pesantren Salafiyah, meski tinggal di kompleks pesantren. Di tengah hidup prihatin itu, beliau mulai punya santri — dua orang — yang ditempatkan di sebuah gubuk di halaman rumah. Beliau juga mulai menggelar pengajian di berbagai desa di kabupaten Pasuruan: Rejoso, Ranggeh dan lain-lain.

Sekitar 1951, sepeninggal KH. Abdullah ibn Yasin yang jadi nazhir (pengasuh) Pondok Salafiyah, beliau dipercaya sebagai guru besar pondok, sementara KH. Aqib Yasin, adik Kiai Abdullah, menjadi nazhir. Meski demikian, secara de facto, beliaulah yang memangku pondok itu, mengurusi segala tetek bengek sehari-hari, day to day karena Kiai Aqib yang muda itu, masih belajar di Lasem.

Fenomenal

Kiai Hamid benar-benar berangkat dari titik nol dalam membina Pondok Salafiyah. Sebab, saat itu tidak ada santri. Para santri sebelumnya tidak tahan dengan disiplin tinggi yang diterapkan Kiai Abdullah.

Walaupun tak ada promosi, satu demi satu santri mulai berdatangan. Prosesnya sungguh natural, tanpa rekayasa. Perkembangannya memang tidak bisa dibilang melesat cepat, tapi gerak itu pasti. Terus bergerak dan bergerak hingga kamar-kamar yang ada tidak mencukupi untuk para santri dan harus dibangun yang baru; hingga jumlah santrinya mencapai ratusan orang, memenuhi ruang-ruang pondok yang lahannya tak bisa diperluas lagi karena terhimpit rumah-rumah penduduk; hingga pada akhirnya, terdorong oleh perkembangan zaman, fasilitas baru pun perlu disediakan, yaitu madrasah klasikal.

Perkembangan fenomenal terjadi pada pribadi beliau. Dari semula hanya dipanggil “haji” lalu diakui sebagai “kiai”, pengakuan masyarakat semakin membesar dan membesar. Tamunya semakin lama semakin banyak. Terutama setelah wafatnya Habib Ja’far As-Segaf (wali terkemuka Pasuruan waktu itu yang jadi guru spiritualnya) sekitar 1954, sinarnya semakin membesar dan membesar. Kiai Hamid sendiri mulai diakui sebagai wali beberapa tahun kemudian, sekitar awal 1960-an. Pengakuan akan kewalian itu kian meluas dan meluas, hingga akhirnya mencapai taraf — meminjam istilah Gus Mus — “muttafaq ‘alaih” (disepakati semua orang, termasuk di kalangan mereka yang selama ini tak mudah mengakui kewalian seseorang).

Lurus

Ketika Kiai Hamid mulai berkiprah di Pasuruan, tak sedikit orang yang merasa tersaingi. Terutama ketika beliau menggelar pengajian di kampung-kampung. Maklumlah, beliau seorang pendatang. Ada kiai setempat yang menuduh beliau mencari pengaruh, dan menggerogoti santri mereka. Padahal, Kiai Hamid mengajar di sana atas permintaan penduduk setempat.

Ibarat kata pepatah Jawa “Becik ketitik, ala ketara”, lambat laun beliau dapat menghapus kesan itu. Bukan dengan rekayasa atau “politik pencitraan” yang canggih, melainkan dengan perbuatan nyata. Dengan tetap berjalan lurus, dan terutama dengan sikap tawadhu’, kehadiran beliau akhirnya dapat diterima sepenuhnya. Bahkan mereka menaruh hormat pada beliau justru karena sikap tawadhu’ itu.

Beliau memang rendah hati (tawadhu’). Kalau menghadiri suatu acara, beliau memilih duduk di tempat “orang-orang biasa”, yaitu di belakang, bukan di depan. “Kiai Hamid selalu ndepis (menyembunyikan diri) di pojok,” kata Kiai Hasan Abdillah.

Hormat

Beliau bersikap hormat pada siapapun. Dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang jelata sampai yang berpangkat, semua dilayaninya, semua dihargainya. Misalnya, bila sedang menghadapi banyak tamu, beliau memberikan perhatian pada mereka semua. Mereka ditanyai satu per satu sehingga tak ada yang merasa disepelekan. “Yang paling berkesan dari Kiai Hamid adalah akhlaknya: penghargaannya pada orang, pada ilmu, pada orang alim, pada ulama. Juga tindak tanduknya,” kata Mantan Menteri Agama, Prof. Dr. Mukti Ali, yang pernah menjadi junior sekaligus anak didiknya di Pesantren Tremas.

Beliau sangat menghormat pada ulama dan habaib. Di depan mereka, sikap beliau layaknya sikap seorang santri kepada kiainya. Bila mereka bertandang ke rumahnya, beliau sibuk melayani. Misalnya, ketika Sayid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki, seorang ulama kondang Mekah (yang baru saja wafat), bertamu, beliau sendiri yang mengambilkan suguhan, lalu mengajaknya bercakap sambil memijatinya. Padahal tamunya itu lebih muda usia.

Sikap tawadhu’ itulah, antara lain, rahasia “keberhasilan” beliau. Karena sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai tokoh. Para kiai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat sikap tawadhu’ beliau yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Derajat beliau pun meningkat, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah s.a.w., “Barangsiapa bersikap tawadhu’, Allah akan mengangkatnya.”

Sabar

Beliau sangat penyabar, sementara pembawaan beliau halus sekali. Sebenarnya, di balik kehalusan itu tersimpan sikap keras dan temperamental. Hanya berkat riyadhah (latihan) yang panjang, beliau berhasil meredam sifat cepat marah itu dan menggantinya dengan sifat sabar luar biasa. Riyadhah telah memberi beliau kekuatan nan hebat untuk mengendalikan amarah.

Beliau, misalnya, dapat menahan amarah ketika disorongkan oleh seorang santri hingga hampir terjatuh. Padahal, santri itu telah melanggar aturan pondok, yaitu tidak tidur hingga lewat pukul 9 malam. Waktu itu hari sudah larut malam. Beliau disorongkan karena dikira seorang santri. “Sudah malam, ayo tidur, jangan sampai ketinggalan salat subuh berjamaah,” kata beliau dengan suara halus sekali.

Beliau juga tidak marah mendapati buah-buahan di kebun beliau habis dicuri para santri dan ayam-ayam ternak beliau ludes dipotong mereka. “Pokoknya, barang-barang di sini kalau ada yang mengambil (makan), berarti bukan rezeki kita,” kata beliau.
Pada saat-saat awal beliau memimpin Pondok Salafiyah, seorang tetangga sering melempari rumah beliau. Ketika tetangga itu punya hajat, beliau menyuruh seorang santri membawa beras dan daging ke rumah orang tersebut. Tentu saja orang itu kaget, dan sejak itu kapok, tidak mau mengulangi perbuatan usilnya tadi.

Beliau juga tidak marah ketika seorang yang hasud mencuri daun pintu yang sudah dipasang pada bangunan baru di pondok.

Penyakit Hati

Melalui riyadhah dan mujahadah (memerangi hawa nafsu) yang panjang, beliau telah berhasil membersihkan hati beliau dari berbagai penyakit. Tidak hanya penyakit takabur dan amarah, tapi juga penyakit lainnya. Beliau sudah berhasil menghalau rasa iri dan dengki. Beliau sering mengarahkan orang untuk bertanya kepada kiai lain mengenai masalah tertentu. “Sampeyan tanya saja kepada Kiai Ghofur, beliau ahlinya,” kata beliau kepada seorang yang bertanya masalah fiqih. Beliau pernah marah kepada rombongan tamu yang telah jauh-jauh datang ke tempat beliau, dan mengabaikan kiai di kampung mereka. Beliau tak segan “memberikan” sejumlah santrinya kepada KH. Abdur Rahman, yang tinggal di sebelah rumahnya, dan kepada Ustaz Sholeh, keponakannya yang mengasuh Pondok Pesantren Hidayatus Salafiyah.

Bergunjing

Menghilangkan rasa takabur memang sangat sulit. Terutama bagi orang yang memiliki kelebihan ilmu dan pengaruh. Ada yang tak kalah sulitnya untuk dihapus, yaitu kebiasaan menggunjing orang lain. Bahkan para kiai yang memiliki derajat tinggi pun umumnya tak lepas dari penyakit ini. Apakah menggunjing kiai saingannya atau orang lain. Kiai Hamid, menurut pengakuan banyak pihak, tak pernah melakukan hal ini. Kalau ada orang yang hendak bergunjing di depan beliau, beliau menyingkir. Sampai KH. Ali Ma’shum berkata, “Wali itu ya Kiai Hamid itulah. Beliau tidak mau menggunjing (ngrasani) orang lain.”

Manusia Biasa

Kiai Hamid, seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga masyarakatnya. Tidak hanya di Pasuruan tapi juga di tempat-tempat lain. Beliau adalah sokoguru moralitas masyarakatnya. Beliau adalah cermin (untuk melihat borok-borok diri), beliau adalah teladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuja, di mana-mana dirubung orang, ke mana-mana dikejar orang (walaupun beliau sendiri tidak suka, bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan beliau).

Bagaimanapun beliau manusia biasa (Rasulullah pun manusia biasa), yang harus merasakan kematian. Sabtu 9 Rabiul Awal 1403 H, bertepatan dengan 25 Desember 1982 M, menjadi awal berkabung panjang bagi msyarakat muslim Pasuruan, dan muslim di tempat lain. Hari itu, saat ayam belum berkokok, hujan tangis memecah kesunyian di rumah dalam kompleks Pesantren Salafiyah. Setelah jatuh anfal beberapa hari sebelumnya dan sempat dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya karena penyakit jantung yang akut, beliau menghembuskan nafas terakhir. Inna lillahi wa inna lillahi raji’un.

Umat pun menangis. Pasuruan seakan terhenti, bisu, oleh duka yang dalam. Puluhan, bahkan ratusan ribu orang berduyun-duyun membanjiri Pasuruan. Memenuhi relung-relung Masjid Agung Al-Anwar dan alun-alun kota, memadati gang-gang dan ruas-ruas jalan yang membentang di depannya. Mereka, dalam gerak serentak, di bawah komando seorang imam, KH. Ali Ma’shum Jogjakarta, mengangkat tangan “Allahu Akbar” empat kali dalam salat janazah yang kolosal. Allahumma ighfir lahu warhamhu, ya Allah ampunilah dosanya dan rahmatilah dia.
Hamid Ahmad

sumber :
from :www.salafiyah.org

About these ads

80 Tanggapan to “Biografi KH. Hamid Pasuruan”

  1. yeni said

    assalamualaikum wrwb…
    mohon ijin unduh untuk referensi tugas sekolah…

  2. Anonymous said

    elek wes eroh kabeh aku. . . . .wkwkwwkw

  3. Anonymous said

    assalamualaikum kulo angsal ngopi bio grafi mbh Hamid ta….? ngapunten

  4. Anonymous said

    thanks mas arif…biografi KH Abdul Hamidnya…mudah2an bermanfaat izinkan sy lagi ngopi filenya ini…

  5. Anonymous said

    semoga kita semua bisa mentauladani K.H.Hamid dalam kehidupan ini yang semuanya serba langka, langka kejujuran, langka keadilan, langka kebenaran.prihatin deh

  6. adam said

    asaalamualaikum

    mas izin share dan ikut nimbrung mas yah buat cari ilmu betapa beruntungnya mas bisa nyantri di beliau aku ndak kebagian nyantri keapada beliau mas karna baru lahir 94 alangkah baiknya jika mas ini mau bercerita tenatang kebaikan beliau dan cara mengajar beliau mungkin dari kitab kitab apa saja yg beliau pelajarkan pada santrinya seperti mas ini
    saya kagum dengan beliau walau saya cuma membaca buku biografi dri beliau tapi sudah cukup untuk jadi cermin buat saaya

    dan saya izin donlot foto beliau mas yah

  7. Anonymous said

    bagaimana cara mendapatkan foto kyai hamid?trims (abdullah 081575314851)

  8. gus Jahid said

    Assalamu alaikum Wr. Wb.
    Segala puji bagi Allah yang telah memberikan segala karuniaNya kepada kita semua. Semoga kita termasuk hamba yang pandai bersyukur kepada Allah SWT.
    Begini saudara ku..
    saya ingin share pengalaman bersama kyai H. Abdul Hamid semoga Allah merahmatinya . amiin.
    Pada suatu saat saya di ajak oleh Ayah ibu saya berkunjung ke rumah Kyai… kira-kira jam 10 pagi pada waktu itu sekitar tahun 1973. ternyata telah banyak tamu yang menunggu Pak Kyai keluar…. begitu kami beserta keluarga sampai didepan bangsal Pintu ternyata pak kyai keluar buka pintu kemudian kami disambut.. kepala saya ditiup-tiup… dan di do’akan setelah itu beliau masuk kembali ke rumahnya . Padahal banyak orang di luar pada duduk menunggu Kyai keluar….pada waktu itu Umur saya baru 7 tahun..
    Alahamdulillah … berkat doa Kyai Hamid … saya Kuliah sampai Selesai Gratis . yang mana waktu kecil kepala saya ditiup-tiup dan di do’akan . Jadi … dari situ menunnjukkan ke karomahan beliau dan sekaran ini Alhamdu lillah Sekolah Pacasarjana telah selesai Mohon doanya semoga Ilmu kami menjadi manfaat fiddunya wal akhiroh. sekian sekedar Sharing semoga ada manfaatnya.
    Wasllamu alaikum Wr. Wb

  9. moh.bisri said

    marilah kita wujudkan rasa cinta kita pada Alloh SwT dg mencintai segenap makhluknya….Mbah hamid panjenengan telah menjadi salah satu contohnya

  10. alkhamdulillah ..menambah wawasan..tentang biografi auliya..

  11. Anonymous said

    maaf,ya memang wali allah

  12. Anonymous said

    Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmussholihat “Semoga menjadi keterangan yang barokah dalam diri saya…amin

  13. Anonymous said

    Subhannalloh…..sungguh kita perlu meneladani sikap beliau yang sangat luar biasa ini

  14. Alhamdulillah saya bisa tau cerita Kh.Abdul hamid…
    Subhanallah sifat”‘ beliau yang perlu kita contoh

    Mas minta izin unduh fotonya alm Kh.abdul hamid boleh…terima kasih

  15. team expedisi kun faya kun C4 ITC PAS said

    assalamualaikum,
    alhamdulillah semenjak ziarah ke makam beliau terutama penyebar agama di pulau jawa hati kami merasa damai dan lebih bertaqwa kepada ALLAH SWT.Dan semenjak mengikuti ilmu tombo ati yang salah satunya ajarannya yaitu bertemanlah pada orang orang sholeh

  16. Anonymous said

    ALHAMDULILLAHIROBBIL’ALAMIN, BERKAH ALLAH MOGA TERLIMPAHKAN PADA KITA SEBAGAIMANA BERKAH YANG DI LIMPAHKAN PADA HADHROTUSSYAIKH K.H HAMID. AMIIIN.

  17. Sebuah biografi yang dapat dijadikan suritauladan. Mohon share….. Salam dari Kota Tegal Jawa Tengah…

  18. ahmad said

    alhamdulilah saya bisa mengenal lebih jaus tentang kisah beliau

  19. beny anton soedjarwo said

    Assalamualaikum wr wb

    Sosok dan sejarah beliau baru saya kenal pada tahun ke 8 dari th 1999 saat saya ditugaskan di pasuruan.

    Sejak saat ini pula pertemanan dan kecintaan terhadap beliau dan kota pasuruan semakin dalam. Banyak pelajaran dan tauladan yang saya dapatkan. Ziarohpun juga sering kami lakukan bersama anak istri saya.

    Semoga kami sekeluarga mendapatkan barokah dari kepandaian, keharmonisan keluarga dan ketauladanan serta ibadah. Amin ya rabbilin

  20. Subhanallah, para auliya’ yg sangat di sayangi & di cintai Allah swt.

  21. abdulhamid said

    Kenapa kita mencari orang seperti mba Yai Hamid padal mbah Hamid banyak meninggalkan cerita banyak tentang amaliayah atau perilaku yang intinya mengajarkan ahlaqul karimah mengapa tidak kita teladani sebagai penerus dari pada Nabi Muhammad

  22. Mohon Izin untuk share di majelis kami

  23. mohamad wahyudi said

    Allhamdullilahi robby.

    Dengan harapan semoga keteladanan Romo yai mengilhami saya dan keluarga untuk selalu berjalan diatas jalan yang diridhoi Allah…Amin3x

  24. mohamad wahyudi said

    Allhamdulilah hi robby. sangat bermanfaat untuk saya dan keluarga kususnya. dengan harapan keteladanan beliau dapat kami ikuti.

    terima kasih kepada yang tulis artikel biografi ini.

    Salam
    Hamba ALLAH

  25. bigrafi para ulama sangatlah penting untuk dipelajari, semoha yg mempelajarinya akan mendapat hidayah dan taufiqNya…amiiin

  26. Mas Akmal said

    assalamu’alaikum
    nyuwun sewu dalem bade nderek ngopi biografi panjenenganipon yai hamid pasuruan…

  27. wawan said

    assalammu’alaikum…mohon ijin m’copy..

  28. amrul said

    kulo ajengnge ngopy angsal ?

  29. hanif said

    alkhamdulilah baru kemaren tgl 11/02/2011 bisa terkabul ikut acara haulnya romo kyai khamid dan ke makam romo kyai.

    saya ucapkan terimakasih bwt mas arif telah menulis biografi romo kyai khamid, dengan membaca artikelnya mas arif saya jadi tau mengenai romo kyai khamid. semoga di taun depan saya bisa mengikuti haulnya romo kyai khamid lg amien ya robb.

  30. sandi said

    sekrng houlnya k.h abdul hamid semua orang pasuruan dan sekitarnya berkmpl untuk mperinatinya

  31. Qolbil watid said

    assalamu’alaikum…….
    izin mengcopy mas….
    matursuwon

  32. Al ichsani said

    assalamu’alaykum wr wb

    khi, ana izin copy yaa .. ajiib khi ..
    ana publish di blog ana
    jazakumulloh kher khi

    wassalamu’alaykum wr wb

  33. kusniaindriyani@yahoo.com said

    saya adl orang yg sangat mncintai ulama

    • arif said

      alhamdulillah…
      Ulama adalah pewaris-pewaris Nabi. Mereka mewarisi ilmu pengetahuan. Barangsiapa yang mendapatkannya, maka dia beruntung dan memperoleh sesuatu yang besar..

      terima kasih atas kunjungannya…

  34. m fadloli hs said

    as wr wb.jumpa kembali sdr arif.mudah mudahan dlm keadaan sehat wal afiat saudaraku

  35. Soesantono said

    tolong kirimi aku file ini dong…

    Thank’s

  36. m. misbah said

    askum..wr.wb.
    pak…sebelumnya mumpung sekarang msh dibulan syawal.sugeng riyadi ya pak.
    gini pak, saya mau tanya ni.bolehkan.?ada gak buku-buku/tulisan tentang keunggulan/kewaliannya beliau mbah khamid.soalnya q suku banget baca-baca biografi tentang wali-wali/ulama’-ulama’ besar.tetapi ironosnya aku gak punya bukunya..bisakan mas memberikan keterangan yang aku inginkan tadi lewat E-mail aku…..sebelumnya terimakasih
    waskum.wr.wb.

  37. Anonymous said

    saya ingin membaca buku-buku kewalian/keunggulan mbah hamid pasuruan.ada bukan z.

  38. m fadloli hs said

    selamat hari raya idul fitri ,mohon maaf atas semua khilaf baik yg sengaja atau yg tidak sengaja.mudah mudahan amal kita dalam bulan romadhon uni diteraima Alloh swt.amin.

    • Anonymous said

      sama-sama……….
      mau tanya ni.ada buku-buku khusus tentang keunggulan k.h. hamid pasuruan ini gak.yang dikenal sebagai waliyullah

  39. Suwoko said

    Saya, pengagum mbah Hamid dan sering jiaroh ke makamnya. Tapi gak pernah saya mimpi ketemu Beliau. Mohon petunjuk bagi yg sudah pernah berhasil bgmn cara-cara nya

  40. alhamdulilah sy diberikan kesempatan berttemu dengan beliau walau hanya mimpi

  41. solekhan said

    YA ALLOH AKU INGIN MENGIKUTI LANGKAH PARA JAMAN DULU? BERIKAN HAMBAMU INI DENGAN PENUH KEKUATAN AGAR BISA MENJALANKAN TUGAS-TUGAS MU YA ALLOH…………………..ALLOH HUAKBAR!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!11

  42. Primuz Achmad said

    Akhir tahun 1981 saya bersilaturrohim kali pertama ke rumah beliau di Pasuruan, kali pertama pula saya bertatap muka dengan sosok kekasih Alloh. Kalimat pertama beliau yang tertuju pada saya, “Sampeyan kapan pergi haji?” mendapat pertanyaan mendadak seperti itu saya spontan gugup dan salting; namun justeru itulah yang ternyata memotivasi saya dengan amalan-amalan tertentu sehingga atas izin dan Ridlo Allah SWT semata, tanpa keluar biaya, pada akhir 2006, 25 tahun kemudian, saya mendapatkan Haji Akbar di Tanah Suci. Subhanallah…

  43. Babe said

    Asskum

    Saya ngunduh biografi dan fotonya ya, maklum pengagum berat,
    trims

  44. Babe said

    Asskum,

    Fotonya saya unduh ya mas, maklum pengagum berat … makaci ya

  45. oji said

    apakah kyai hamid muridnya juga kh.cholil bangkalan

  46. ahmad hamim tohari said

    untuk blok nya bagus mas untuk megingat abuyah, wong saya ini alumni PP.Mambaus Sholihin (Suci-Manyar-Gersik)dulu abuya perna datang di pondok saya, dan adiknya romoyai Masbuchin Faqih yakni KH.Asfihani perna nyantri disana dan sebagai santri kepercayaan yai hamid

  47. Sy ingn lbh jauh lagi mengenal kiyai hamid. Di mana ya… Bisa Mendapatkan serial tlisan yg mengupas tuntas karomah2 bliau? Mhon alamatnya mas?

    • arif said

      silahkan browsing aja mas di google…
      disana banyak situs yang bisa menjadi referensi…
      terima kasih atas kunjungannya….

  48. murti said

    Subhanalloh….patut di contoh…

  49. sunarko said

    mas,ngapunten kulo ngersa’aken (ngopi) biografi mbah yai,mangke bade kulo aturaken dateng ustadz kulo (salah satu murid beliau).

  50. Anonymous said

    Saya pada tahun 1981 (aku masih SMA) juga pernah ikut teman posoan di sana. Ketika akan sholat isya’. juga pernah disapanya oleh Romo Kyai H. Abd. Hamid. Tutur sanya lembut, ” Sinten Asmne, nggih !! ?”.
    Beliau menyapa sebagaimana tamu lain, padahal aku masih remaja yang tentu banyak nakalnya, tidak sopan dg. orang2 yg. lebih tua.
    _________________________________
    mohon ijin mengunduh fotonya !
    Qomaruddin Tuban (081 332 016 999)

  51. ali said

    mas saya unduh fotonya Alm.Kh. Hamid….boleh kah..?

  52. Ahmad Fauzi said

    Assalamu’alaikum
    Mas kalau aku mengcopy boleh ngak, karena aku senang kalau mengetahui Biografi dari seorang Ulama’.

    Fauzi
    Pandaan

  53. dhadha said

    inna auliyaa’a laa khoufun ‘alihim walaa hum yahzanuun……..subhanalloh……………”keMuLiaAn SeSeoRang bergaNtUng AmAl iBadaH sElAmA hiDuPnya…………SeHiNggA KaRamAhnyA…AkaN kiAn nAmPak sEteLaH diA meniNgGaL…………(syair gubahan K.H.HaMiD PASURUAN)

  54. Muhammad Munif said

    Ass. Wr. WB.
    Perkenalkan saya pengagum berat Romo “Yai” saya juga ingin tau lebih banyak lagi tentang ROMO “YAI”. Bila ada yang berkenan memberikan info dan foto Beliau saya akan sangat berterima kasih…
    Wass. Wr. Wb.

    • arif said

      walaikumsalam WR WB

      Insaallah akan saya usahakan, berhubung sekarang masih disibukkan dengan proses pencarian ilmu jadi jarang upload artikel di blog…

      mungkin mas munif punya artikel yang menarik, mas munif bisa kirim di blog ini

  55. M FADLOLI .HS.Al BRANGKALI . said

    oh ya,untuk sahabat sahabatku,mari kita sambung persahabatan kita seperti yang dulu,baik melalui di darat,Telpon,atau lewat enternet semacam ini.
    Alamatku : Kedung Agung santren,brangkal.mojokerto Jatim.
    No Telepon :03216236671.
    Hubungi Aku sahabatku,baik yang ada di jatim,jateng,jabar,sumatra,atau dimana saja.kita kan sudah lama kurang lebih 35 tahunan,tidak bertemu,ayo kita sambung.terutama saudara arif yang punya blok ini,salam kenal,kirim aku no tlp ente.
    emeilku :Romo666@yahoo.co.id.terima kasih.

  56. M FADLOLI .HS.Al BRANGKALI . said

    saya alumnus pp tebuireng jombang tahun 1975.tiap puasa saya mondok puasaan di pasuruan mulai tahun 1970 sampai tahun 1982.
    KH ABD HAMID adalah tokoh ulamak pada waktu itu,tiada ulamak sepengetahuanku pada waktu itu kecuali sama hurmat takdzim kepada belaiau.dari 14 guruku dari para ulamak yang semuanya sekarang sudah wafat,beliaulah yang paling terseniaor,baik yang ada di jatim atau di jawa tengah.
    Luar biasa Romo Kh Hamid.beliau seorang ulama’ yang mempunyai Ilmu kasyaf.shohibul karomah dhohiroh. pada waktu itu ya’ni th 1970 hanya ada 6 kamar,yang penuh sesak oleh para santri,kamar cuma untuk meletakkan pakaian saja,kalau tidur para santri yang banyak di luar kamar.
    di antara karomahnya,:
    1-pada waktu itu belum ada hp seperti sekarang,sewaktu aku punya hajat pada beliau,sebelum aku sowan kepada ebeliau,malam nya sudah di beri tahu oleh beliau melalui mimpi cocok dengan apa yang akan sampaikan.
    2-apa saja yang telah terjadi pada diriku dari mulai kecil sampai beliau mengetahuinya.apa saja kesusahanku,beliau mengetahuinya.nasehatnya pada saya : sabar sabar,Alloh menjadikan segala sesuatu dalam kehidupan itu berjodo jodo,ada malam ada siang,ada wanita ada lelaki,ada susah ada kesenangan,tegas beliau :innamaal usri yusroo.
    3-ada sahabatku juga sebagai guruku yaitu Al Arif billah KH abdurrohman Al badawi DEMAK jateng yang sekarang sudah wafat,beliau dulu satu kamar denganku di pp salafiah pasuruan,pernah cerita padaku,Ya akhi,saya sebelumnya disini,saya belum pernah tahu sama romo kyai hamid.sewaktu aku riadloh di berbagi mqom para wali songo,tepat pada waktu itu aku di maqom SUNAN AMPEL,aku bertemu dengan mbah sunan ampel dapat berbincang bincang dan di beri Nasehat nasehat,diantara nasehatnya,aku di suruh beliau untuk menemui KH hamid pasuruan,sehingga aku dapat ketemu denagan ya akhi di pondoknya kyai hamid ini.pada waktu tahun 1970.beliau sahabat dan guruku yang ini juga sudah diberi Alloh ilmu Kasyaf juga.waktu itu kesana kemari selalu dengan saya,beliau tidak pernah makan Nasi.aku sering di ajak ke warung,di suruh makan apa saja,tapi beliau tidak pernah makan Nasi.Tapi namanya Rokok,habis satu buang nyalakanlagi.tapi akhirnya beliau tidak merokok sewaktu sudah pulanh ke demak jkadi ulama’ besar yang ahli kasyaf seperti romo kyai hamid.,saya tanyakan,katanya tidak boleh ngrokok sama Romo KH hamid.
    4-saya katakan dengan sebenarnya,bahwa Romo KH HAMID
    sepertinya masih hidup,kenyataannya,masih mengunjungi aku,biarpun beliau sudah wafat.sewaktu aku ada kekurangan apa saja,beliau datang memberi Nasehat gak ubahnya seperti beliau masih hidup seperti dahulu.
    banyaklah cerita,dan karomah kyai Hamid yang saya ketahui sewaktu aku masih ada di pasuruan dulu.
    mudah mudahan apa yang saya sampaikan disini,menjadikan kita tambah giat dalam beramal sholeh sesuai yan yg telah di ajarkan oleh agama dan para guru guru kita dan giat berjuang demi tegaknya Agama Alloh di bumni ini,baik di darat,udara atau melalui enternet semacam ini.
    harapan saya kepada semua Alumnus PP salafiah pasuruan,atau PP tebuireng jombang dapatnya meramaikan nya dengan dakwah islamiah di enternet ini.
    saya ucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga kepada sahabatku Arif yang telah sudi menulis biografi Romo KH Hamid.mudah mudahan semua jerih payahnya di balas oleh Alloh yang berlipat ganda Amin,juga termasuk sabda Nabi saw :”Kelak manusia di akhirat di kumpulkan beserta orang orang yang di cintai sewaktu di dunia”.

  57. M FADLOLI .HS.Al BRANGKALI . said

    saya juga alumnus pp salafiyah,tapi nyantri puasaan mulai sejak tahun 1970 sampai akhir hayat romo kyai Abd Hamid trh 1982.Apa yang di ceritakan di atas betul betul adanya.dan saya sendiri sering du ajak berjagong sendirian,teruma di waktu malam di rumah beliau.

    • arif said

      alhamdulillah bisa kenal bapak yg kebetulan alumnus PP. Salafiyah.. mudah2an artikel ini bisa mengingat memorial masa lalu bapak…

  58. SAMSUL ARIP said

    Assalamu’alaikum

    Fotonya saya unduh mas, gk apa ya….. thank’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: